Buku Penolong

Ilustrasi: Della Naradika
Ilustrasi: Della Naradika

Halo semuanya! Perkenalkan, namaku Rona. Aku adalah tuan putri di Negeri Air. Di sini, semua warga hidup berkecukupan.

Hari ini, aku akan mengadakan pesta minum teh. Tamunya adalah Putri Waci dari Negeri  Angin, Putri Tina dari Negeri Tanah, dan Putri Ire dari Negeri Api. Pesta teh dimulai pukul empat sore. Taman istana sudah dihias. Teh dan kue sudah jadi. Sekarang saatnya ganti gaun. Semua pelayan sudah menyiapkan gaun yang akan kupakai. Kadang, menurutku peraturan di istana terlalu ketat. Namun, ya, itulah resikonya menjadi seorang putri.  

 “Permisi, Tuan Putri. Teman-teman Tuan Putri sudah datang,” ucap pelayan.

“Aku akan segera ke sana, terima kasih,” jawabku.

Kalian tahu tidak? Aku dikenal sebagai putri yang paling ramah di seluruh negeri. 

            “Selamat datang, semuanya!” sapaku sambil memberi hormat kepada teman-temanku.

“Terima kasih telah mengundang kami, Tuan Putri,” balas mereka serempak.

“Silakan lewat sini, Nona–nona,” ucap pelayan.

Kami segera menuju ke taman istana. Kami duduk di kursi yang sudah disediakan. Kami mulai mengobrol.

“ Tuan Putri, teh ini sungguh enak!” ucap Tina.

“Terima kasih. Kalian bisa memanggilku ‘Rona’ saja.”

“Baiklah, Rona,” ucap mereka serempak.

 “Apa kalian mau melihat perpustakaan?” tanyaku.

“ Tentu saja,” jawab mereka dengan antusias.

Singkat cerita, kami mengobrol banyak dan menjadi teman. Kami segera berjalan menuju perpustakaan. Hampir semua putri suka membaca buku.

Kami pun sampai di depan bangunan berwarna cokelat dan memiliki ukiran kayu yang khas.

“Tempat ini indah sekali!” ucap Ire.

Saat kami masuk, sedang tidak ada orang di dalam. Jadi kami bebas melakukan apa saja. 

“Aku akan mencari buku sejarah,” ucap Tina.

“Aku akan membaca buku dongeng,” seru Waci.

Sedangkan Ire mengikuti aku. Aku bersama Ire pergi ke tempat buku paling tua di simpan.

“Nah, ini dia tempatnya!” ucapku.

“Wah, hebat. Buku setua ini masih utuh dan terawat,” seru Ire.

“Buku ini sudah disimpan kakekku selama 50 tahun. Lalu lanjut disimpan ayahku selama 35 tahun,” aku menjelaskan kepada Ire.

Tiba-Tiba, Waci dan Tina menghampiri kami. “Buku paling tua, ya?” tanya Tina.

“Bagaimana kalau kita membacanya?” ajak Waci.

Kami langsung membuka buku itu dan membacanya. Begini tulisannya:

Empat kerajaan bersatu di Hutan Jigglebrose dan membentuk sihir yang sangat kuat. Sihir yang cukup kuat untuk mengalahkan raksasa di negeri antah berantah.

Membaca cerita tersebut, Ire langsung tertarik.

“Bagaimana kalau kita mengalahkan raksasa itu?” ajak Ire.

“Ayo! Tapi raksasa ini ada di mana?” tanyaku.

“ Coba kita lihat di peta,” ucap Waci membentangkan peta yang dibawanya. 

 “Lihat, ini tempatnya. Raksasa itu ada di Negeri Kegelapan? Aku baru tahu ternyata ada tempat bernama Negeri Kegelapan,” kata Waci yang masih penasaran. 

“ Ada. Di dekat Samudera Nortin,” seru Tina yang ternyata tahu tempat itu.

“Gimana kalau kita menginap di istana Negeri Air dan berangkat esoknya?” usulku.

“ Baiklah, kami akan memberi tahu negeri kami masing–masing,” seru Ire.

Kami segera ke ruang penyiaran. Semua putri segera memberi tahu negeri mereka masing– masing.

Setelah selesai, aku langsung mengajak mereka istirahat, “Ayo! Aku akan mengantar kalian ke kamarku.”

Keesokan harinya, kami segera pergi ke Negeri Kegelapan. Sesampainya di sana, kami langsung mencari goa tempat raksasa tinggal. Di Negeri Kegelapan, para penduduk hidup menderita karena raksasa. Kami pun berhasil menemukan goa tempat raksasa tinggal. Buku tua perpustakaan yang memberi tahu kami.

“Teman–teman, sepertinya buku ini mencoba menolong penduduk Negeri Kegelapan,” ucapku.

“Ya! Sepertinya begitu,” jawab para putri.

Seperti yang dikatakan buku, kami menyatukan kekuatan dan membentuk bola sihir empat negeri. Itu adalah bola sihir yang paling kuat. Tanpa pikir panjang, kami langsung  menyerang raksasa. Raksasa itu sempat melawan, tapi gagal.

Kami berhasil mengalahkan raksasa. Setelah raksasa kalah, buku yang kami bawa memancarkan cahaya yang sangat terang. Di buku itu muncul tulisan, “Simpan ini di Balai Kota”.

Kami segera menaruh buku itu di Balai Kota Negeri Kegelapan. Seketika, seluruh Negeri Kegelapan berubah menjadi negeri yang sangat indah. Rakyat pun hidup makmur.

Setelah misi kami berhasil, kami diberi gelar para putri pemberani oleh penduduk Negeri Kegelapan. Sejak hari itu, kami jadi sering bertemu. Kami sepakat menjadikan Eri sebagai ratu. Sekarang, Negeri Kegelapan berubah nama menjadi Negeri Norturda.

Buku tua perpustakaan mencoba untuk membantu Negeri Norturda dari kegelapan, tapi dia tak bisa melakukannya. Buku itu kemudian meminta tolong kepada kami. Buku tua itu sangat baik.

Nissa Ariella Putri Rakasetyadi
Siswa SDK BPK Penabur Serang, Banten